Menjauhi Anak Dari Sifat Ghibah

Muslim-single-mum

Sebagai seorang Ibu yang memiliki anak tentu merupakan harapan agar anaknya menjadi seorang muslim yang baik hatinya, perilaku, serta pribadinya. Seorang Ibu tentu memiliki tanggung jawab lebih atas perilaku serta nasihat yang membentuk anak-anak mereka kelak. Di jaman yang modern ini tak jarang kita melihat lingkungan, acara telivisi yang tidak lagi mementingkan untuk saling menjaga perasaan. Acara gosip, menggunjing, gibah sudah menjadi hal yang lumrah di lingkungan serta media yang beredar yang jelas-jelas dilarang Oleh Allah dan Rasul-Nya, dan pastinya sangat bisa menyakiti perasaan orang lain.

“dan janganlah mencari-cari keburukan orang” (QS. Al-Hujurat: 12)

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

“Sesungguhnya apabila engkau mencari-cari aib orang lain, maka engkau telah atau hampir merusak mereka” (HR. Abu Daud)

“dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya”(Al-Hujurat: 12)

Dari Abu Hurairah, dia bekata : Ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang “apakah ghibah?” Beliau berkata ““Engkau menyebut-nyebut saudaramu tentang sesuatu yang ia benci.” Beliau ditanya “Bagaimana menurutmu jika sesuatu yang aku sebutkan tersebut nyata-nyata apa pada saudaraku?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Jika memang apa yang engkau ceritakan tersebut ada pada dirinya itulah yang namanya ghibah, namun jika tidak berarti engkau telah berdusta atas namanya.” (HR Muslim)

Lingkungan saat ini tak jauh dari banyak tindakan yang dilarang agama yang anehnya dianggap lumrah. Ghibah salah satunya, akibat dari ghibah sangat besar dan membahayakan bagi pelakunya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan tegas-tegas mengatakan:

‘Aisyah berkata : Aku pernah berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam “Cukuplah bagimu Shafiyyah itu begini dan begini..” Maksud ‘Aisyah adalah bahwa Shafiyyah itu seorang wanita yang pendek. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata “Sungguh engkau telah mengucapkan kata – kata (buruk), seandainya (kata-kata buruk itu) dicampurkan ke laut, maka akan tercampur semuanya (menjadi busuk).” (HR. Abu Daud).

“Ketika aku diangkat (min’raj ke langit), aku melewati suatu kaum yang berkuku tembaga, mereka mencakar wajah dan dada mereka sendiri. Aku berkata “Siapakah mereka ya Jibril?” Jibril menjawab “Mereka adalah orang-orang yang memakan suka daging manusia (menggunjing) dan menodai kehormatan mereka. (HR. Abu Daud)

Lingkungan yang terkadang menjadi pemicu akan perilaku anak nanti sangat perlu kita kontrol, tentu tidak dengan hal yang kasar, keras ataupun menakut-nakuti sang anak. Anak lebih condong menjadikan Ibu sebagai panutannya, karena Ibu lebih dekat dan lebih sering bersama dengan anak. Berikut ini sedikit kisah yang semoga bisa kita ambil pelajaran

Di sebuah lingkungan kecil ada seorang gadis kecil yang bernama Habibah berlari memasuki rumah. “Mah, Mah, ada yang sudah tak sabar ingin aku ceritakan kepada Mamah…”

“Tunggu sebentar,” sela Mamahnya dengan senyum bijak. “apa pun yang mau Bibah ceritakan ke mamah, apa Bibah sudah menyaringnya dengan tiga ayakan?”

“Tiga ayakan?” tanya bibah bingung.

“Iya, Sayang. Tiga ayakan! Mari kita lihat apakah cerita bibah akan melewati tiga ayakan itu. Ayakan pertama adalah kebenaran. Apa Bibah sudah fikirin yang ingin Bibah ceritakan merupakan kebenaran?”

“Yah,” kata Bibah ragu-ragu. “Aku mendengarnya dari orang lain, jadi aku tidak terlalu yakin…”

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar,” (QS. Al-Ahzab: 70)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah Shallallhu ‘Alaihi Wasallam berkata: “Hendaklah kamu harus selalu bersifat jujur, maka sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan membawa ke surga. Dan senantiasa seseorang bersifat jujur dan menjaqa kejujuran, sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Jauhilah kebohongan, maka sesungguhnya kebohongan membawa kepada kefasikan, dan sesungguhnya kefasikan membawa ke neraka. Senantiasa seseorang berbohong, dan mencari-cari kebohongan, sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai pembohong.” (HR. Muslim)

“Celakalah orang yang berbicara kemudian dia berdusta (dengan tujuan) untuk membuat orang-orang tertawa, celakalah dia, celakalah dia!” (HR. At-Tirmidzi)

“Baik,” kata Mamahnya. “Itu jawaban jujur. Kalau begitu mari kita coba menyaringnya dengan ayakan kedua.
Ini ayakan kebaikan. Karena apa yang mau Bibah ceritakan kepada Mamah belum tentu mengandung kebenaran, apakah setidaknya hal itu memiliki kebaikan?”

Bibah Menundukan matanya. “Yah, tidak,” akunya. “Tidak juga. Malah sebaliknya.”

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf : 16-18)

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

“Nah,” lanjut Mamahnya yang bijaksana itu, “kalau begitu akan kita gunakan ayakan ketiga, untuk melihat apa yang mau Bibah ceritakan ke mamah, walaupun tidak benar ataupun baik setidaknya perlu?”

“Yah, tidak benar-benar perlu…” Bibah terdiam dan berfikir.

Dari Abu Hurairah radhiallahunhu dia berkata : Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam bersabda : Merupakan tanda baiknya Islam seseorang, bahwa dia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya . (HR. AT-Tirmidzi)

“Kalau begitu,” kata Mamahnya, memeluk Bibah dengan maklum, “Karena apa yang akan Bibah ceritakan kepada Mamah tidak benar, baik ataupun perlu. Mamah saranin kita menguburnya dalam-dalam di tanah pelupaan tempat kita biasa melupakan hal-hal yang biasa kita ingin lupakan, tempat cerita itu takkan pernah lagi menyakiti hati siapa pun.”

“Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Mari ajarkan anak-anak kita untuk menghargai perasaan orang lain, menjaga perilaku dan sikapnya agar kelak tidak merugikan orang lain.

Komentari Artikel Ini:

Terpopuler :

Terbaru :

Backto Top